Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Oleh
Al-Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

KECINTAAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH KEPADA SELURUH SAHABAT
Di antara prinsip dasar aqidah Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah adalah mencintai, loyal, dan memohon keridhaan dan ampunan untuk seluruh Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah/9:100]

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a, ‘Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” [Al-Hasyr/59:10]

Sebagaimana Ahlus Sunnah juga meyakini bahwa mereka (para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih utama dibanding orang-orang yang datang setelah mereka. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).[1]

Sebagai konsekuensinya, maka Ahlus Sunnah berlepas diri dari setiap orang yang menghina atau melecehkan para Sahabat, baik dari kalangan orang-orang Râfidhah (Syi’ah) atau an-Nawâshib (orang-orang yang menyakiti Ahlul Bait).

Prinsip dasar Ahlus Sunnah ini –yaitu mencintai para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam – berlandaskan dalil-dalil al-Qur’ân dan as-Sunnah yang menuntut cinta dan berwala’ (loyal) kepada mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) wali (berkasih sayang, menjadi penolong) bagi sebagian yang lain…” [At-Taubah: 71]

Imam Abu Nu’aim rahimahullah (wafat th. 430 H) berkata, “Maka menahan lisan dari membicarakan Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menyebutkan kesalahan mereka, (dan berusaha) menyebarkan kebaikan dan keutamaan-keutamaan mereka, dan membawa segala urusan mereka kepada sisi atau makna yang terbaik merupakan ciri orang-orang yang beriman yang mengikuti jejak mereka dengan baik.[2]

MENGIKUTI TUNTUTAN NASH DALAM MENENTUKAN KEDUDUKAN SAHABAT DAN MENETAPKAN KEUTAMAAN MEREKA
Metode Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah dalam menetapkan dan menjelaskan setiap permasalahan-permasalahan pokok dalam agama ini, dengan berlandaskan kepada nash-nash al-Qur’ân dan as-Sunnah. Serta mengamalkan tuntunan dari nash tersebut sesuai dengan pemahaman para Sahabat Radhiyallahu anhum , dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan Ulama salafus shâlih yang Allâh Azza wa Jalla berikan cahaya dan petunjuk kepada hati mereka untuk mengikuti al-Qur’ân dan as-Sunnah.

Di antara prinsip pokok tersebut adalah sikap Ahlus Sunnah terhadap keutamaan dan kedudukan para Sahabat Radhiyallahu anhum . Ahlus Sunnah senantiasa mengikuti nash-nash al-Qur’ân dan as-Sunnah dalam hal ini. Ini berbeda dengan orang-orang yang sesat yang berani mencela, menghina para Sahabat.

Penjelasan Tentang Tingkatan Keutamaan Para Sahabat Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Yang Berdasarkan Nash Al-Qur’ân Dan As-Sunnah :

Sahabat yang paling mulia secara mutlak adalah Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu , kemudian ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu , kemudian ‘Utsmân bin ‘Affân Radhiyallahu anhu, kemudian Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu .

Kemudian setelah itu Ahlus Syûra[3] yang lainnya, kemudian sepuluh orang yang dijamin masuk Surga[4] , kemudian yang ikut perang Badr dari kalangan Muhâjirîn, kemudian yang menyaksikan perang Badr dari kalangan Anshâr, dan orang-orang yang berbai’at kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah pohon.

لاَ يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

Tidak akan masuk Neraka seorang pun yang berbai’at di bawah pohon[5]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

لَنْ يَدْخُلَ النَّارَ رَجُلٌ شَهِدَ بَدْرًا وَالْـحُدَيْبِيَّةَ

Tidak akan masuk Neraka seseorang yang ikut dalam Perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyyah.[6] Kemudian mereka yang hijrah dan yang ikut berperang sebelum al-Fath (perdamaian Hudaibiyyah) lebih tinggi derajatnya daripada orang yang menafkahkan hartanya dan ikut berperang setelah itu, dan masing-masing telah Allâh janjikan kebaikan (pahala).[7]

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allâh, padahal Allâh-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi. Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allâh menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadîd/57:10]

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sungguh, Allâh telah meridhai orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat. [Al-Fath/48:18]

Adapun pengutamaan Ahlus Sunnah terhadap Abu Bakar Radhiyallahu anhu kemudian Umar Radhiyallahu anhu, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اِقْتَدَوْا بِالَّلذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ : أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ

Ikutilah dua orang yang hidup sesudahku, (yaitu): Abu Bakar dan ‘Umar.[8]

Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -dalam suatu perjalanan- beliau bersabda tentang urusan manusia :

…فَإِنْ يُطِيْعُوْا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوْا…

“…Jika mereka mentaati Abu Bakar dan Umar niscaya mereka mendapat petunjuk…”[9]

Umat Islam juga telah sepakat dalam mendahulukan mereka (Abu Bakar dan Umar) berdua karena memiliki banyak keutamaan, sebagaimana telah dipersaksikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat setelah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H) berkata, “Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah sungguh telah sepakat berdasarkan apa yang telah dinukilkan secara mutawatir dari Amîrul Mukminin Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu , beliau berkata, “Orang yang terbaik dari kalangan umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar kemudian ‘Umar Radhiyallahu anhuma.[10]

Adapun keutamaan Abu Bakar Radhiyallahu anhu menurut Ahlus Sunnah berdasarkan keutamaan-keutamaan khusus yang beliau miliki dan tidak dimiliki oleh selain beliau, diantaranya adalah keutamaan yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Amru bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu , bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beliau sebagai amir pasukan perang Dzâtus Salâsil , beliau (Amru bin al-‘Ash) berkata, “Lalu saya datang kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Siapakah orang yang paling kamu cintai?” Beliau menjawab, ‘Aisyâh’, saya bertanya lagi, “Dari laki-laki?” Beliau menjawab, ‘Bapaknya (Abu Bakar)’, Saya bertanya lagi, “Kemudian siapa ?” Beliau menjawab, ‘Umar bin Khaththab’, Kemudian beliau menyebut nama-nama yang lain.”[11]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

…إِنَّ مِنْ أَمَنَّ النَّاسَ عَلَيَّ فِيْ صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُوْ بَكْرٍ ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيْلاً غَيْرَ رَبِّيْ لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ ، وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلاَمِ وَمَوَدَّتُهُ ، لاَ يَبْقَيَنَّ فِيْ الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلاَّ سُدَّ إِلاَّ بَابَ أَبِيْ بَكْرٍ.

Sesungguhnya orang yang paling terpercaya bagiku dalam persahabatan dan harta adalah Abu Bakar, seandainya aku mengambil seorang sebagai khalil (kekasih) selain Allâh tentu aku akan mengambil Abu Bakar, akan tetapi hanya persaudaraan dan kasih sayang (dalam) Islam, jangan dibiarkan ada di dalam masjid (masjid Nabawi) satu pintu pun kecuali ditutup kecuali pintu Abu Bakar.[12]

Tentang keutamaan Abu Bakar Radhiyallahu anhu , kemudian Umar Radhiyallahu anhu kemudian Utsmân Radhiyallahu anhu , Imam Ahmad rahimahullah (wafat th. 241 H) berkata, “Yang terbaik dari kalangan umat ini sesudah Nabi-Nya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar bin Khaththab, kemudian ‘Utsmân bin ‘Affân. Kita mendahulukan mereka bertiga sebagaimana yang dilakukan oleh para Sahabat. Mereka tidak berselisih pendapat dalam hal itu, dan kita berpendapat sesuai dengan hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma , yaitu, “Kami mengatakan –sedang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup dan para Sahabatnya masih banyak-, “Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian kami diam.”

Hal senada dikatakan oleh Ali al-Madîni rahimahullah (wafat th. 234 H)[14]

WAJIBNYA MENAHAN LISAN (TIDAK IKUT CAMPUR) DALAM PERSELISIHAN YANG TERJADI DI ANTARA SAHABAT رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْن
Di antara prinsip dasar yang dijelaskan oleh Ulama salaf dan yang diikuti oleh para imam yang datang sesudah mereka serta yang dipegang oleh seluruh Ahlus Sunnah adalah kewajiban menahan lisan (tidak ikut campur) tentang perselisihan yang terjadi antara Sahabat –semoga Allâh meridhai mereka semua-, mendoakan mereka kerahmatan bagi mereka, mencintai dan tidak menyebut mereka kecuali dengan pujian yang baik lagi indah, sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’ân, as-Sunnah, dan perkataan salaf dan para Ulama yang datang sesudah mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Ahlus Sunnah bersikap menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara para Sahabat Radhiyallahu anhum . Mereka mengatakan bahwa riwayat-riwayat tentang hal kejelekan yang terjadi di antara mereka ada yang dusta (bohong), ada yang ditambah, ada yang dikurangi, serta ada juga yang diselewengkan dari yang sebenarnya. Sedangkan dalam riwayat yang shahih, mereka dimaafkan karena mereka adalah orang-orang yang berijtihad yang bisa benar dan bisa pula salah. Meskipun demikian, Ahlus Sunnah tidak mempunyai keyakinan bahwa setiap individu para Sahabat itu ma’shûm (terpelihara) dari dosa besar atau dosa kecil, bahkan bisa saja mereka itu mempunyai dosa-dosa, tetapi mereka itu memiliki kelebihan (keutamaan), yaitu lebih dulu beriman dan memiliki keutamaan yang banyak yang dapat menghapuskan dosa-dosa mereka -kalau pun hal itu ada- sehingga mereka diberikan ampunan atas kesalahan-kesalahan mereka, yang tidak diberikan kepada orang-orang sesudahnya.

Dalam hadits shahih, Rasûlullâh bersabda :

لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابِـيْ فَوَالَّذِيْ نَفْسِـيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيْفَهُ.

Janganlah kamu mencaci-maki Sahabatku, demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, jika seandainya salah seorang dari kalian infaq sebesar gunung Uhud berupa emas, maka belum mencapai nilai infaq mereka meskipun (mereka infaq hanya) satu mud (yaitu sepenuh dua telapak tangan) dan tidak juga separuhnya.”[15]

‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma mengatakan :

لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابَ مُـحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَقَامُ أَحَدِهِمْ سَاعَةً خَيْرٌ مِنْ عَمَلِ أَحَدِكُمْ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً

Janganlah kalian mencaci-maki para Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh, berdirinya mereka sesaat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripada ibadah salah seorang kalian selama empat puluh tahun.[16]

Dalam riwayat lain disebutkan, “…lebih baik daripada ibadah seorang dari kalian sepanjang hidupnya.[17]

Perkara-perkara ini, apabila dibandingkan dengan kesalahan mereka, maka kesalahan-kesalahan itu akan hapus dengan kebaikan yang sekian banyak, dan tidak ada seorang pun yang menyamai mereka Radhiyallahu anhum.

Sesungguhnya kadar yang diingkari dari perbuatan mereka (yang tidak menyenangkan) sangat sedikit sekali, lagi pula dapat terampuni jika dibandingkan dengan keutamaan dan kebaikan-kebaikan mereka.

Siapa pun yang memperhatikan dengan ilmu dan benar akan sirah (perjalanan hidup) para Sahabat serta keistimewaan-keistimewaan yang dikaruniakan Allâh kepada mereka, maka ia akan tahu bahwa para Sahabat adalah sebaik-baik manusia sesudah para Nabi, yang tidak pernah ada sebelumnya dan tidak akan ada lagi yang seperti mereka. Mereka adalah orang-orang pilihan dari generasi umat ini. Mereka adalah sebaik-baik umat yang dimuliakan oleh Allâh Azza wa Jalla .[18] Mudah-mudahan Allâh meridhai mereka semuanya.

Dari ‘Umar bin Abdul Aziz rahimahullah tatkala beliau ditanya tentang perang (Shiffin) dan perang Jamal, beliau rahimahullah menjawab, “Itu adalah pertumpahan darah yang Allâh Azza wa Jalla selamatkan tanganku dari keterlibatan, maka aku tidak suka melibatkan lisanku dalam kejadian tersebut.”[19]

Imam Ahmad rahimahullah ketika ditanya tentang (perang Shiffin) yang terjadi antara Ali Radhiyallahu anhu dan Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu , beliau t menjawab, “Aku tidak berkata tentang mereka kecuali kebaikan.”[20]

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullah tentang apa yang terjadi antara Ali Radhiyallahu anhu dan Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu, lalu Imam Ahmad membacakan ayat :

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. [Al-Baqarah/2:141] [21]

Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah (wafat th. 324 H) berkata, “Adapun yang terjadi antara Ali dan Az-Zubair bersama Aisyah g hanya berdasarkan takwil dan ijtihad. Ali Radhiyallahu anhu adalah seorang imam dan semua mereka adalah ahlul ijtihâd (orang yang berhak berijtihad) dan semuanya telah dipersaksikan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk Surga. Ini menunjukkan bahwa mereka semuanya benar dalam ijtihad tersebut.

Begitu juga yang terjadi antara Ali Radhiyallahu anhu dan Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu berdasarkan takwil dan ijtihad, dan seluruh Sahabat adalah para imam yang terpercaya (jujur) tidak diragukan agama mereka. Allâh dan Rasul-Nya telah memuji mereka secara keseluruhan, dan memerintahkan kita untuk menghormati, memuliakan, dan mencintai mereka dan berlepas diri dari setiap orang yang mencela salah seorang dari mereka Radhiyallahu anhum.[22]

Dan Imam al-Muzani rahimahullah (wafat th. 264 H) -tatkala menjelaskan aqidah Ahlus Sunnah tentang sahabat- beliau berkata, “Disampaikan keutamaan mereka serta disebutkan dengan amalan-amalan mereka yang baik, dan kita menahan (lisan) dari ikut campur dalam perselisihan yang terjadi antara mereka. Karena mereka adalah manusia terbaik sesudah Nabi mereka. Allâh Azza wa Jalla telah meridhai mereka sebagai sahabat Nabi-Nya, serta menciptakan mereka sebagai penolong atau pejuang agama-Nya. Mereka adalah para imam dalam agama ini dan para Ulama kaum Muslimin –semoga Allâh meridhai mereka seluruhnya-.”[23]

Imam al-Barbahari rahimahullah (wafat th. 329 H) berkata, “Apabila kamu melihat seseorang mencela salah seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa ia adalah orang yang memiliki perkataan jelek dan (pengikut) hawa nafsu, berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِيْ فَأَمْسِكُوْا

Apabila disebut para sahabatku maka tahanlah (lisan) kalian.[24]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui kesalahan yang akan muncul dari mereka sesudah beliau wafat[25] , akan tetapi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan tentang mereka kecuali kebaikan.[26]

Imam Ibnu Baththah rahimahullah (wafat th. 387 H) dalam menjelaskan aqidah Ahlus Sunnah berkata, “Dan sesudah itu kita menahan lisan tentang perselisihan yang terjadi antara Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , (karena) mereka telah ikut dalam peperangan bersama beliau, dan lebih awal meraih kemuliaan. Sungguh Allâh telah mengampunkan (dosa) mereka dan memerintahkan kamu untuk istighfâr (memohon ampunan kepada Allâh) bagi mereka serta mendekatkan diri kepada Allâh dengan mencintai mereka. Hal itu telah diwajibkan oleh Allâh lewat lisan Nabi-Nya sedang ia mengetahui apa (kesalahan) yang akan muncul dari mereka dan akan terjadi peperangan di antara mereka.”[27]

Imam Abu Utsmân ash-Shabûni rahimahullah (wafat th. 449 H) berkata, “Mereka meyakini (wajibnya) menahan lisan tentang perselisihan yang terjadi antara Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan membersihkan lisan dari membicarakan sesuatu yang mengandung tudingan dan celaan terhadap mereka. Mereka (salaf) meyakini (wajibnya) memohon rahmat buat seluruh para Sahabat dan mencintai mereka.”[28]

Imam Ibnu Qudâmah rahimahullah (wafat th. 620 H) berkata, “Di antara sunnah adalah berwala’ (setia) kepada Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencintai mereka, menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, meminta rahmat dan ampunan untuk mereka, menahan lisan dari menyebut kesalahan dan perselisihan yang terjadi antara mereka dan meyakini keutamaan mereka serta mengetahui bahwa mereka orang yang lebih dahulu (dalam meraih keutamaan dan memperjuangkan agama).”[29]

Orang-orang Syi’ah dan lainnya yang mencela dan mencaci-maki para Sahabat, pada hakikatnya, mereka adalah orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Mereka telah menyimpang sangat jauh dari agama Islam yang lurus. Mereka adalah orang-orang zindiq (munafik) seperti perkataan Imam Abu Zur’ah ar-Râzi rahimahullah. Keyakinan mereka (Syi’ah) yang sesat yang mencela bahkan mengkafirkan para Sahabat Radhiyallahu anhum , berarti mereka:

1. Telah mendustakan al-Qur’ân yang telah memuji para Sahabat Radhiyallahu anhum dalam puluhan ayat al-Qur’ân.
2. Telah menuduh Allâh Azza wa Jalla tidak memilih untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam orang-orang yang dapat menjaga agama Islam.
3. Telah menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam gagal dalam mendidik dan membina para Sahabatnya.
4. Membatalkan semua riwayat yang disampaikan oleh para sahabat.
5. Membatalkan al-Qur’ân dan as-Sunnah, karena yang menyampaikan al-Qur’ân dan as-Sunnah adalah para Sahabat Radhiyallahu anhum , dan lainnya.[30] [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVI/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] _______
Footnote
[1]. Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 2652) dan Muslim (no. 2533 (212)), dari Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu
[2]. Al-Imâmah war Raddu ‘ala ar-Râfidhah (hlm. 373).
[3]. Yaitu mereka yang diwasiatkan oleh ‘Umar z untuk memilih khalifah sepeninggal beliau. Mereka adalah: 1. ‘Utsmân bin ‘Affân, 2. Ali bin Abi Thâlib, 3. Zubair bin Awwam, 4. ‘Abdurrahman bin ‘Auf, 5. Sa’ad bin Abi Waqqâsh, 6. Thalhah bin ‘Ubaidillâh Radhiyallahu anhum
[4]. Mereka adalah khalifah yang empat dan Ahlus Syûra. Sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk Surga oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
• Abu Bakar ash-Shiddiq, • Az-Zubair bin ‘Awwâm,
• ‘Umar bin al-Khaththab, • Sa’ad bin Abi Waqqâsh,
• ‘Utsmân bin ‘Affân, • Sa’id bin Zaid,
• ‘Ali bin Abi Thâlib, • Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, dan
• ‘Abdurrahman bin ‘Auf, • Thalhah bin ‘Ubaidillah, Radhiyallahu anhum
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dâwud (no. 4649-4650), at-Tirmidzi (no. 3748, 3757), Ibnu Mâjah (no. 133, 134), Ahmad 9I/187, 188, 189), Ibnu Abi ‘Ashim (no. 1428, 1431, 1433, dan 1436), dan al-Hakim (IV/440). Lihat juga Taisîr al-Karîmir Rahmân Fii Tafsîri Kalâmil Mannân (hlm. 909), cet. Maktabah Ma’arif, 1420 H.
[5]. Shahih: HR. Ahmad (III/350), Abu Dâwud (no. 4653), at-Tirmidzi (no. 3860), dari shahabat Jâbir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu . At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’is Shaghîr (no. 7680).
[6]. Shahih: HR. Ahmad (III/396), dari Shahabat Jâbir bin ‘Abdillâh Radhiyallahu anhuma. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 2160).
[7]. Lihat: Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah (I/179), Syarhus Sunnah karya Imam al-Barbahari (hlm. 53-55, no. 25) tahqiq Ahmad Abdurrahman al-Jumaiji, Syarh an-Nawawi terhadap Shahîh Muslim (XV/148), dan al-Ba’its al-Hatsîts Ibnu Katsir (II/501-505) ta’liq Syaikh al-Albani.
[8]. Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 3662), Ibnu Mâjah (no. 97), Ahmad (V/382) atau (no. 23245) dan Al-Hâkim (III/75), dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu anhu. Hadits ini shahih karena ada beberapa penguatnya. Lihat Hidâyatur Ruwâh (no. 6006).
[9]. Shahih: HR. Muslim (no. 681), dari Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu
[10]. Majmû’ Fatâwâ (III/153).
[11]. Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 3662) dan Muslim (no. 2384).
[12]. Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 466 dan 3654) dan Muslim (no. 2382) dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu
[13]. Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (I/179), dan atsar Ibnu ‘Umar dikeluarkan Imam Ahmad dalam al-Musnad (II/14) atau (no. 4626).
[14]. Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (I/187).
[15]. Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 3673), Muslim (no. 2541), Abu Dawud (no. 4658), at-Tirmidzi (no. 3861), Ahmad (III/11), al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (XIV/69 no. 3859) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (no. 988), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri z .. Lihat Fat-hul Bâri (VII/34-36).
[16]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadhâ-ilush Shahâbah (no. 20) dan Ibnu Abi ‘Âshim (no. 1006). Lihat Syarah ‘Aqîdah Thahâwiyah (hal. 469) takhrij Syaikh al-Albani.
[17]. Fadhâ-ilush Shahâbah (no. 15) karya Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq dan takhrij Washiyyullah bin Muhammad ‘Abbas.
[18]. Lihat at-Tanbîhât al-Lathîfah ‘ala Mahtawat ‘alaihi al-‘Aqîdah al-Wâsîthiyyah minal Mabâhitsil Munîfah (hlm. 96-97) dengan sedikit tambahan dalil, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, ta’liq Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, dan takhrij Syaikh ‘Ali Hasan.
[19]. Lihat as-Sunnah karya al-Khallaal (II/461-462, no. 717). Maksudnya, kita wajib diam, jangan membicarakan tentang kesalahan dalam peperangan tersebut, tidak ada manfaatnya bahkan berdosa.
[20]. Manâqibul Imam Ahmad bin Hanbal (hlm. 221), karya Imam Ibnul Jauzi tahqiq DR. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turkiy.
[21]. Ibid
[22]. Al-Ibânah ‘an Ushûl ad-Diyânah (no. 271) tahqiq Basyir Muhammad ‘Uyun.
[23]. Syarhus Sunnah karya Imam al-Muzani (hlm. 88, no. 17) ta’liq DR. Jamal ‘Azun.
[24]. HR. At-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabîr (II/96, no. 1427) dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’ (IV/114, no. 4953). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 34).
[25]. Maksudnya: Berdasarkan wahyu yang Allâh sampaikan kepada beliau, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang peperangan yang terjadi antara sahabat, seperti pengabaran beliau tentang Hasan bin Ali c bahwa Allâh akan mendamaikan antara dua golongan dari kaum Muslimin. [HR. Al-Bukhâri, no. 3746].
[26]. Syarhus Sunnah karya Imam al-Barbahari (no. 124) tahqiq dan ta’liq Abdurrahman bin Ahmad al-Jumaizi.
[27]. Asy-Syarhu wal Ibânah ‘alaa Ushûlis Sunnah wad Diyânah (hlm. 294) tahqiq DR. Ridha Na’san Mu’thi.
[28]. ‘Aqîdah Salaf wa Ash-hâbil Hadîts (hlm. 294) tahqiq DR. Nashir bin ‘Abdurrahman bin Muhammad al-Judai’.
[29]. Lum’atul I’tiqâd Syarh Syaikh ‘Utsaimin (hlm. 150).
[30]. Disadur dari catatan kaki Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah karya al-Lalikaa-i (VII/1311) tahqiq DR. Ahmad Sa’ad Hamdani.

Leave a Reply