Mu’awiyah Radhiyallahu Anhu Juga Harus Dihormati

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Secara individual, tidak ada seorangpun dari Sahabat Radhiyallahu anhum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ma’shûm (tersucikan) dari kesalahan. Yang ma’shûm itu hanya Nabi Allâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tetapi apakah kesalahan salah seorang dari para Sahabat Radhiyallahu anhum menjadi celah bagi seseorang untuk bebas membicarakan kesalahan itu ? Meskipun atas nama ‘sikap kritis’ termasuk terhadap Mu’awiyah bin Abu Sufyân Radhiyallahu anhu ?!

Seorang Muslim yang baik dan tahu diri, tentu akan membersihkan hatinya dari rasa tidak suka kepada para Sahabat Radhiyallahu anhum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia akan menahan lidah dan penanya dari perkataan serta tulisan yang mengandung cercaan kepada mereka. Ia mengerti bahwa kebaikan yang dimilikinya hanya secuil saja dibandingkan dengan tumpukan kebaikan yang menggunung yang dimiliki Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sekalipun Sahabat Radhiyallahu anhum yang paling rendah derajat keutamaannya di antara Sahabat lainnya. Dia ingat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ (وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: فَوَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ) أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ. رواه البخاري ومسلم

Janganlah kalian mencaci para Sahabatku! Sesungguhnya jika seseorang di antara kalian (dalam salah satu riwayat Muslim: Demi Allâh yang jiwaku ada ditangan-Nya, sesungguhnya jika seseorang di antara kalian) berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan bisa menandingi satu mud (seperempat sha’/takaran) kebaikan satu orang di antara Sahabatku, bahkan separoh mudpun tidak. [HR. Bukhâri dan Muslim.][1]

Imam Nawawi rahimahullah dalam syarahnya terhadap hadits ini menjelaskan bahwa mencerca Sahabat Radhiyallahu anhum termasuk perkara haram yang keji, baik Sahabat Radhiyallahu anhum yang terlilit fitnah peperangan maupun yang tidak. Mereka semua berijtihad dalam kaitannya dengan peristiwa peperangan itu.[2]

Maka jika seseorang tanpa rasa malu mengkritisi Sahabat Radhiyallahu anhum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bahasa nyinyir, tak ubahnya ia laksana katak yang berusaha menyamai seekor sapi. Ia akan meletus dan binasa.

Bahkan seorang Muslim sejati, selalu memaafkan Sahabat Radhiyallahu anhum ketika menghadapi riwayat-riwayat yang menceritakan kejelekan mereka.[3] Sikapnya tetap membela nama baik seluruh Sahabat Radhiyallahu anhum, menyebarluaskan kebaikan-kebaikan mereka dan diam terhadap kejelekan mereka.[4]

RIWAYAT-RIWAYAT YANG MENCERITAKAN KEBURUKAN SAHABT
Tentang riwayat yang menceritakan kesalahan serta keburukan Sahabat itu sendiri, terdiri dari tiga jenis riwayat, sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.[5]

Pertama, riwayat-riwayat dusta dan palsu yang dibuat oleh musuh untuk merusak nama baik Sahabat Radhiyallahu anhum , sebagaimana dilakukan oleh orang-orang râfidhah dan sejenisnya -qabbahahumullâh. Maka riwayat-riwayat ini tidak perlu diperhatikan dan harus ditolak.

Kedua, riwayat-riwayat yang mungkin memiliki asal-usul yang sah, tetapi terdapat penambahan atau pengurangan, sehingga merusak riwayat aslinya. Maka yang ini tidak boleh dijadikan sandaran. Orang harus kembali kepada riwayat-riwayat yang muhkam (pasti) tentang Sahabat Radhiyallahu anhum . Yaitu bahwa mereka semua adalah generasi yang utama, shaleh dan adil. Jika terdapat riwayat-riwayat yang membingungkan dan menceritakan kejelekan atau kesalahan Sahabat Radhiyallahu anhum , maka hal itu tidak merusak keutamaannya. Terutama karena riwayat-riwayat itu telah bercampur dengan kebathilan.

Ketiga, riwayat-riwayat shahih. Maka dalam hal ini kemungkinan kesalahan Sahabat Radhiyallahu anhum terbagi menjadi dua jenis kesalahan. Kesalahan yang berbentuk ijtihadi. Dan kesalahan yang benar-benar merupakan kesalahan nyata yang bukan ijtihadi.

MENYIKAPI DUA JENIS KEMUNGKINAN KESALAHAN SAHABAT:
Pertama : Kesalahan Ijtihadi:
Para Sahabat Radhiyallahu anhum adalah para Ulama, bahkan tokoh Ulama. Merekalah orang-orang yang paling pertama memiliki kapasitas untuk berijtihad dalam istinbâth hakum syar’i. Ijtihad Ulama tidak lepas dari kemungkinan salah atau benar. Sehingga apabila para Sahabat Radhiyallahu anhum berijtihad, kemungkinannya adalah benar atau salah. Apabila benar ijtihadnya, maka mereka mendapat dua pahala, yaitu pahala ijtihad dan pahala kebenaran dalam ijtihad. Sementara apabila salah ijtihadnya, maka mereka mendapatkan satu pahala dari ijtihadnya, sedangkan kesalahannya dimaafkan. Jadi mereka tidak berdosa karena kesalahan ijtihadnya, bahkan mendapat pahala meskipun salah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang ijtihad:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَ إِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ. متفق عليه

Apabila seorang Hakim ingin menetapkan hukum, maka ia berijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Dan apabila ia ingin menetapkan hokum, maka ia berijtihad, kemudian ijtihadnya salah, maka ia mendapatkan satu pahala[6].

Jadi, kesalahan Sahabat Radhiyallahu anhum sangat dimungkinkan terjadi karena ijtihad. Dengan demikian, mereka tidak berdosa dan tidak tercela atas kesalahannya, bahkan mereka mendapat pahala.

Ijtihad ialah pengerahan segenap kemampuan untuk memahami hukum syar’i.[7] Pengerahan kemampuan seperti ini tentu berkait dengan penguasaan nash, hubungan antara satu nash dengan nash lain, pendapat-pendapat Ulama tentang nash, kaidah-kaidah hukum, kaidah-kaidah bahasa, tafsir dan sebagainya. Para Sahabat Radhiyallahu anhum memiliki kapasitas untuk itu.

Kedua : Kesalahan Diluar Ijtihad:
Dalam hal ini, baik yang berupa dosa besar maupun dosa kecil. Para Sahabat Radhiyallahu anhum adalah manusia biasa yang tidak lepas dari kemungkinan terjerumus dalam perbuatan dosa, karena secara individu, mereka tidak ma’shûm. Tetapi mereka memiliki bermacam-macam penghapus dosa yang jumlahnya banyak. Di antaranya :

1. Memiliki banyak sekali keutamaan dan amal shaleh sejak sebelum melakukan kesalahan hingga seterusnya. Hal ini pasti menyebabkan ampunan bagi mereka jika melakukan kesalahan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Sesungguhnya, perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. [Hûd/11:114]

Apabila ayat ini berlaku untuk seluruh kaum Mu’minin, bahwa perbuatan yang baik akan menghapus dosa dari perbuatan yang buruk, maka lebih layak lagi ayat ini berlaku untuk para Sahabat Radhiyallahu anhum .

2. Kebaikan-kebaikan yang dimiliki para Sahabat Radhiyallahu anhum lebih layak untuk dilipat gandakan nilainya dibandingkan dengan orang lain. Sebab Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ. رواه البخاري ومسلم

Sebaik-baik manusia adalah (kaum Muslimin) pada generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya lagi. [HR. Bukhari dan Muslim][8]

Apabila pahala dari perbuatan baik seorang Muslim biasa bisa berlipat sepuluh kali kebaikan, tentu pahala dari perbuatan baik para Sahabat Radhiyallahu anhum yang merupakan generasi terbaik umat Islam, akan lebih layak lagi untuk dilipat gandakan, bahkan hingga menjadi 700 kali lipat.

3. Bentuk-bentuk penghapus dosa mereka sangat beragam dan sangat banyak. Bahkan mungkin mereka memiliki semua itu. Misalnya, taubat, jihad, hijrah, infak, shadaqah, mushibah-mushibah yang menimpa, syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , pembelaan kepada agama, penaklukan negeri-negeri kafir, pemberantasan syirik, bid’ah serta khurafat, peperangan melawan orang-orang murtad, dan lain-lain. Hal-hal yang bila itu terjadi pada orang lain, maka tidak akan sehebat yang terjadi pada para Sahabat. Apabila orang yang bertauhid selain mereka bisa mendapat syafa’at dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka para Sahabat Radhiyallahu anhum tentu lebih layak mendapatkannya.

Apabila demikian kenyataannya, bahwa dosa mereka yang benar-benar nyata, terampunkan karena mereka memiliki begitu banyak penghapus dosa, maka apalagi jika kesalahan yang mereka lakukan hanyalah kesalahan ijtihad.

Kesimpulannya, kesalahan yang dilakukan Sahabat, di samping karena kesalahan itu sedikit, juga kesalahan itu tidak keluar dari dua kemungkinan:

Pertama, kesalahan karena ijtihad. Mereka tidak berdosa karenanya. Sebab kesalahan itu diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla , dan bahkan mendapat pahala karena ijtihadnya.

Kedua, kesalahan yang bukan karena ijtihad. Untuk kesalahan ini mereka memiliki banyak dan beragam penghapus dosa. Sementara kesalahan itu jumlahnya sedikit, tenggelam dalam kabaikan-kebaikan serta keutamaan-keutamaan yang sangat banyak.

BAGAIMANA DENGAN MU’AWIYAH)?
Beliau adalah seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Sahabat Radhiyallahu anhum lainnya. Tidak boleh seorangpun membiarkan hatinya memendam rasa tidak suka kepada beliau Radhiyallahu anhu . Tidak boleh seorangpun membiarkan lidahnya mengobral ungkapan celaan kepada beliau Radhiyallahu anhu , meskipun dibungkus dengan kata-kata yang terkesan manis, misalnya bahwa itu bukan celaan, tetapi demi keadilan, kritis, dan lain sebagainya’. Itulah kebiasaan orang munafik, membungkus tendensi duniawi dengan kata-kata mempesona. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ ﴿٢٠٤﴾ وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

Dan di antara manusia ada yang perkataannya tentang kehidupan dunia mempesona hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allâh (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berusaha di muka bumi untuk membuat kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman serta binatang ternak. Dan Allâh tidak menyukai kerusakan. [Al-Baqarah/2:204-205]

Hadits yang dikemukakan pada permulaan tulisan ini tentang larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencela para Sahabat Radhiyallahu anhum , meskipun wurudnya (yang melatarbelakanginya) berkaitan dengan Khâlid bin Walîd dan Abdur Rahman bin Auf Radhiyallahu anhuma, tetapi hadits itu berlaku umum, mencakup larangan untuk mencela Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhuma. Keterangan Imam Nawawi rahimahullah di atas berkenaan dengan ma’na hadits tersebut cukup jelas, yaitu bahwa mencela para Sahabat Radhiyallahu anhum termasuk perkara haram yang keji, baik Sahabat Radhiyallahu anhum yang terlilit fitnah peperangan maupun yang bukan. Sebab mereka semua terlibat dalam fitnah itu karena ijtihad.

Sementara al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa larangan bagi sebagian orang yang sempat berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu sebagian Sahabat) untuk mencerca Sahabat Radhiyallahu anhum pendahulunya, memberikan pengertian bahwa larangan itu lebih layak lagi berlaku bagi orang yang tidak pernah berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

Andaikata tidak satupun nash yang secara khusus memberikan pujian kepada Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertentu, maka kedudukannya sebagai Sahabat Radhiyallahu anhum sudah cukup merupakan pujian, dan orang yang bukan Sahabat Radhiyallahu anhum tidak berhak untuk mencelanya, berdasarkan hadits di atas dan nash-nash lainnya.

Sementara terdapat sejumlah nash yang berisi pujian kepada Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu , di samping nash-nash umum. Beliau Radhiyallahu anhu juga dikenal memiliki banyak keutamaan, di samping sebagai penulis Wahyu, juga sebagai penakluk dan sebagai mujahid. Jasanya sangat banyak bagi Islam dan kaum Muslimin.

PENEGASAN IMAM ABU ZUR’AH AR-RAZI RAHIMAHULLAH
Beliau rahimahullah menegaskan, “Apabila engkau melihat seseorang mencela seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Sebab, bagi kami, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar, al-Qur’ân adalah benar. Sedangkan yang menyampaikan al-Qur’ân dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita adalah para Sahabat Radhiyallahu anhum . Sementara yang mereka inginkan dengan mencela Sahabat Radhiyallahu anhum tidak lain hanyalah untuk mencela para saksi kita, sehingga mereka dapat menyatakan bathilnya al-Qur’ân dan Sunnah. Padahal celaan lebih pantas ditujukan kepada para pencela Sahabat itu, sebab mereka adalah orang-orang zindiq.[11]

Imam Abu Zur’ah adalah salah seorang Imam besar yang masyhur di kalangan Ulama, seorang tokoh yang banyak disebut-sebut, dan seorang hafizh hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mutqin (mantap)[12]. Beliau rahimahullah bernama Ubaidullah bin Abdul Karim bin Yazid bin Farrukh al-Qurasyi al-Makhzumi, Abu Zur’ah ar-Razi. Dilahirkan pada tahun 200 H dan wafat tahun 264 H. Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqat menyatakan: Beliau merupakan salah seorang Imam Dunia dalam bidang hadits, di samping agama, sikap wara’ dan disiplinnya menjaga, menghafal serta mengulang-ulang pelajaran ilmu. Dan juga meninggalkan kehidupan duniawi serta apa yang biasa dikejar manusia.[13]

PENGERTIAN ZINDIQ
Zindiq artinya memendam kekafiran dalam hati, tetapi menampakkan Islam secara lahir. Seorang zindiq bisa merupakan seorang râfidhi atau kaki tangan râfidhah, bisa pula golongan Khawarij, bisa pula golongan-golongan lain yang memusuhi Islam. Sebenarnya ada beberapa pengertian yang dijelaskan oleh para Ulama tentang zindiq. Tetapi inilah pengertian yang masyhur di kalangan Fuqaha’ (para Ahli Fiqih).

Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy rahimahullah menyimpulkan, zindiq adalah setiap orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman. Beliau menukil perkataan Imam Mâlik rahimahullah dan juga menyebutkan bahwa demikianlah pengertian yang dikemukakan oleh sejumlah Fuqaha’ dari kalangan madzhab Syafi’iyah.[14] Ibnu Qudamah juga mengatakan demikian.[15]

Dengan demikian, jika ada yang lancang mulut dan berani mencela Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu , maka seperti yang dikatakan oleh Imam Abu Zur’ah ar-Râzi rahimahullah , ia adalah zindiq. Celaan serta cacian lebih layak ditujukan kepada orang ini karena ia adalah zindiq. Ia layak diwaspadai ketika menyerukan ukhuwah Islamiyah, karena seruannya adalah dusta. Ia sudah sejak dini meruntuhkan prinsip ukhuwah Islamiyah dengan celaannya kepada Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bagi kaum Muslimin, para Sahabat Radhiyallahu anhum merupakan sanad pertama bagi kebenaran Islam. Maka jika seseorang dengan mudahnya mencerca Sahabat, ia akan lebih mudah lagi mencerca dan mengkhianati orang yang bukan Sahabat. Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak sudi bersaudara dengan pencerca individu-individu generasi terbaik umat ini.

PENUTUP
Siapa yang menyatakan bahwa sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Mu’awiyah Radhiyallahu anhu (artinya): Semoga Allâh tidak mengenyangkan Mu’awiyah, adalah doa jelek, berarti orang itu sedang mencari celah untuk melancarkan fitnah dan syubhat. Para Ulama justeru menganggap bahwa hadits itu merupakan pujian bagi Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu . Dan itu bukan distorsi penafsiran. Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim menegaskan, Imam Muslim telah mendudukkan hadits tersebut sebagai salah satu bentuk pujian kepada Mu’awiyah. Karena Imam Muslim menderetkan hadits tersebut dengan hadits-hadits lain yang menjelaskan, bila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan jelek terhadap seseorang, sedangkan orang tersebut tidak layak didoakan jelek, maka itu berarti kebaikan baginya, termasuk terhadap Mu’awiyah. Dan ini adalah tafsir para Ulama semenjak dahulu.[16] Sementera Syaikh al-Albani rahimahullah telah menukil lengkap pernyataan Imam Nawawi rahimahullahersebut dalam Silsilah Shahihah.[17]

Begitu juga riwayat yang mengisahkan bahwa pada masa akhir kehidupannya, Mu’awiyah mengalami berbagai penyakit berat. Itu sama sekali bukan merupakan cela bagi Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu . Bukan pula merupakan akibat jelek dari do’a Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bukankah wajar manusia mendapatkan banyak penyakit diusia senjanya ? Dengan penyakit semacam itu, beliau Radhiyallahu anhu lebih berhak, dibandingkan yang bukan Sahabat, untuk mendapat penghapusan dosa dari kesalahan yang mungkin Beliau lakukan sebagai manusia biasa yang tidak ma’shûm, sebagaimana dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tetapi kebiasaan pengikut hawa nafsu, memang senang mendramatisir perkara yang wajar menjadi seakan-akan aneh. Itulah syubhat yang dilancarkan untuk menebar fitnah dan kerusakan. Sebagai mana yang disebutkan oleh Allâh dalam firman-Nya :

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat mutasyabihat untuk maksud mencari fitnah dan mencari ta’wilnya. [Ali Imrân/3:7]

Di samping itu, mereka senang sekali memotong-motong perkataan orang, bahkan kalau perlu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , supaya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Nas’alullâha as-Salâmah.

Maraji’
1. Fathul Bâri, al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalâni
2. Shahîh Muslim Bi Syarh al-Imâm an-Nawawi, tahqiq: Khalail Ma’mun Syiha XVI/308-309, no. 6434, 6435
3. Majmû’ Fatâwâ, Jam’u wa Tartib: Ibnu Qasim
4. Syarhul Aqîdah al-Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, cet. VI, th. 1413 H/1993 M.
5. Al-Qaulus Sadîd, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di.
6. Tahdzîb al-Kamal Fi Asmâ’ir Rijâl, Imam al-Mizzi, tahqiq: Dr. Basysyar ‘Awwad Ma’ruf, Mu’assasah ar-Risalah, cet. I, 1422 H/2002 M
7. Tahdzîbut Tahdzîb, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, cet. I pada Percetakan Majlis Da’irati al-Ma’arif an-Nizhamiyah, Haidar Abad, India, th. 1326 H
8. Al-Mughni wasy Syarhil Kabîr, Dar al-Fikr, 1412 H/1992 M
9. Silsilah Ahâdîts Shahîhah, Syaikh al-Albâni

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVI/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] _______
Footnote
[1]. Shahîhul Bukhâri no, 3673 dalam Fathul Bâri VII/21, dan Muslim dalam Shahîh Muslim Bi Syarh al-Imam an-Nawawi, tahqiq: Khalail Ma’mun Syiha XVI/308-309, no. 6434, 6435
[2]. Shahîh Muslim Syarh al-Imam an-Nawawi, op.cit. XVI/309, dengan bahasa bebas
[3]. Lihat keterangan Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan; Syarhul Aqîdah al-Wasithiyah, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, cet. VI, th. 1413 H/1993 M, hlm. 203
[4]. Muqaddimah al-Qaul as-Sadid, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di t , bagian akhir.
[5]. Majmû’ Fatâwâ, Jam’u wa Tartib: Ibnu Qasim, III/155, dan juga keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan, dalam Syarhul Aqîdah al-Wasithiyah, op.cit. hlm. 201-205
[6]. Shahihul Bukhâri no, 7352 dalam Fathul Bâri XIII/318. Shahîh Muslim Bi Syarh al-Imam an-Nawawi, op. cit. XII/239-240, no. 4462
[7]. Syaikh Shalih al-Fauzan, dalam Syarhul Aqîdah al-Wasithiyah, op.cit. hlm. 205
[8]. Shahîhul Bukhâri no, 3651 dalam Fathul Bâri VII/3, dan Shahîh Muslim Bi Syarh al-Imam an-Nawawi, op.cit. XVI/302-303, no. 6419.
[9]. Lihat sekali lagi keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan syarahnya oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, dalam Syarhul Aqîdah al-Wasithiyah, op.cit. hlm. 201-205
[10]. Fathul Bâri VII/34 dengan bahasa bebas.
[11]. Tahdzîbul Kamal Fi Asmâ’ir Rijâl, karya Imam al-Mizzi (654 H-742 H), tahqiq: Dr. Basysyar ‘Awwad Ma’ruf, Mu’assasah ar-Risalah, cet. I, 1422 H/2002 M, juz IX/96, tentang Ubaidullah bin Abdul Karim bin Yazid bin Farrukh al-Qurasyi al-Makhzumiy
[12]. Ibid. IX/89
[13]. Ibid IX/89 dst. Lihat pula Tahdzîbut Tahdzîb, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, cet. I pada Percetakan Majlis Da’irati al-Ma’arif an-Nizhamiyah, Haidar Abad, India, th. 1326 H, VII/30-33, Ubaidullah bin Abdul Karim bin Yazid
[14]. Fathul Bâri XII/271 pada syarah hadits no. 6922 tentang kisah Ali membakar orang-orang zindiq, Bab Hukmu al-Murtad wa al-Murtaddah wa istitaabatuhum.
[15]. Lihat al-Mughni wa asy-Syarhi al-Kabîr, Dar al-Fikr, 1412 H/1992 M, VII/172 dan 168
[16]. Lihat Shahîh Muslim Bi Syarh al-Imam an-Nawawi, op.cit. XVI/371
[17]. Lihat secara lengkap dan jangan dipotong Silsilah Ahâdîts Shahîhah I/164-167, pembahasan hadits no. 82, 83 dan 84

Leave a Reply